Senin, 17 Maret 2014

Cerita Sahabat

Detak jam rasanya berputar terlalu cepat. Malam, pagi, siang dan kembali kemalam lagi. Rasanya aku hanya sebentar menutupkan mata, dan yang terasa hanya ngilu disendi - sendiku.
Melalui sebuah barang kecil dengan kecanggihan super, aku tetap mampu tersenyum. bersendau gurau dengan sahabat - sahabatku, berbincang tentang menu makan siang, tempat kerja baru, juga cerita cinta.
Teman lama yang sulit dijumpai, yang selalu aku fikir "Mereka ga sombong kok, mereka cuma belum punya waktu aja buat kumpul" dan taraaa sekarang rasanya kami seperti burung yang terbebas.
Disela - sela jam kantor, kami mencuri waktu walau hanya sekedar untuk berkirim pesan, dan diakhir minggu kami usahakan untuk bertemu.

Bukan hal yang mudah, saat kami harus menyatukan agenda dan mencari waktu yang tepat untuk bertemu. Semuanya memiliki peran dan profesi masing - masing yang menuntut untuk profesional.
Tapi, untuk sebuah perjumpaan yang walaupun memang rumah kami tidak terlalu jauh rasanya menjadi hal yang sangat berharga. 

Sekedar bercerita dan bertanya "Eh, pacar lu sekarang siapa?" dan biasanya akan berakhir dengan kekehan ringan "Udah putus" atau mungkin dengan jawaban "Masih yang dulu"

Kadang aku selingi perjumpaan itu dengan sedikit permainan. Truth or Dare, menjadi suatu kewajiban *untukku sih ;p
Tahun ini aku dapat banyak cerita, tapi khusus malam ini aku ingin bercerita tentang seorang sahabat laki - laki yang tersipu malu mengirim pesan padaku hanya untuk bicara tentang cinta.

"Fi, gue ga stress kan ngmong begini ke elu"

Aku tersenyum membaca pesan bbm yang muncul dilayar smartphone ku.

"Ya enggalah, lo bakal stress kalau lo ga bisa ungkapin perasaan lo"

obrolan itu kami selingi dengan emot tertawa terbahak - bahak.
Dia salah satu sahabat yang dulu sempat menghilang, kami sempat merasa kehilangan dia cukup lama. Terlebih saat kami dengar Ayahnya meninggal.
Dia sedikit menutup diri, tapi malam ini dia bicara cinta, bicara tentang masa depan, dan kami melepas rindu dengan bicara tentang hidup.

Dia jatuh cinta.
Iya, sahabatku sedang mencintai seorang wanita yang sudah lama dikenalnya.
Teman kuliah katanya, dan heloo besok adalah hari wisudanya.
saat aku tanyakan tentang pendamping wisuda, jawabannya adalah
"Pendamping wisuda itu apa ya ? Yang ngekor dibelakang terus itu ya"

Aahh dasar lelaki, mungkin dibibir bicara seperti itu. Tapi, dalam hati pastinya dia berharap wanita itu datang, dengan gaun manis dan membawa setangkai mawar mendekatinya sambil berucap "Selamat ya"

 Percakapan kami dimulai sejak sore tadi, tiba - tiba dia bertanya mengenai
"Apa yang dilihat wanita dari lelaki yang layak untuk dijadikan suami"

Pertanyaan itu membuatku agak tersentak, oh iya, usiaku sudah cukup matang untuk mulai berfikir tentang pernikahan.

"Bukan sekedar tentang tampan, atau juga tentang kekayaan. Tapi semua itu tergantung lo suka cwe jenis apa"

Kufikir jawabanku cukup general. Bukankah, Tuhan menciptakan kita berpasang"an, ya ibaratnya aja sandal jepit, pasangannya ga mungkin sepatu booth kan hehehehe.

"Biasanya cwe berharap menikah usia berapa fi ?

Ahahaha pertanyaan itu, membuatku sedikit terkekeh. Karena jujur,aku bertemu dengan bermacam - macam wanita ada yang usia 20 sudah ngebeeet pengen menikah. Ada juga yang udah S3 tapi masih selow selow aja. Jadi aku putuskan untuk menjawab :

"Tergantung lelakinya, kalau si lelaki bisa ngeyakinkan hidup si wanita baik - baik aja setelah menikah mungkin sekarang pun dia siap untuk menikah. Tapi, kembali lagi jenis cwe yang lo incer ini type yang seperti apa "

Writting a massage

nampaknya dia tengah berfikir dan mengirim sebuah jawaban

"She is Smart, and realistic girl, will be hard for me"

Aku merasakan ada sedikit rasa minder dari ucapannya. Ah sobat, kenapa harus minder, lo itu lulusan perguruan tinggi negri ternama, lulus jadi sarjana, dan sekarang kerja di BANK.

"Nantinya, kita akan ada di tahap koleksi, seleksi dan resepsi. lo udah mentok sama cwe ini ?"

"Sebenernya gue deket sama 3 cwe sih fi, hahahaha, gue kirimin fotonya ya nanti pilihin mana yang baik buat gue"

-_______-

Tak lama kemudian 3 buah foto masuk ke massanger ku.

*Foto pertama :
 Nampak samping, jelas terlihat batak. Cantik dan keep calm
*Foto kedua    :
 4 potong foto yang editan picmix, rambut diurai, cantik, nmpak high class dengan gaya selfie bibir dimiring"in, terlihat jelas batak juga
*Foto ketiga :
Nampak batak, duduk dengan dagu dipepetkan keleher, tangan mengepal kedepan..

"Gue suka yang pertama"

kukirimkan pesan itu padanya, karena memang aku suka wanita di foto pertama yang nampak sederhana namun cukup menarik.

"Nah, iya itu cwe yang gue ceritain ke elu fi....."

aku tersenyum puas, instingku memang cukup peka untuk mengenali selera sahabat - sahabatku.

Obrolan masih berlanjut hingga saat ini pukul 11.04
Aku ga terlalu ngerti, tapi entah kenapa aku merasa dia sedang kesepian, ada rasa sendiri, dan itu bukan otakku yang bicara tapi hati yang peka ini dapat merasakan kesedihan atau mungkin kegundahannya yang akan wisuda tanpa ada seorang ayah disampingnya.

Kamu lelaki yang hebat, Ayah sudah bahagia bersama Tuhanmu di surga.

Selasa, 11 Maret 2014

Bicara Tentang Kamu

Hai, ada kalanya angin tak ingin menyentuh daun.
Angin hanya takut membuat daun terjatuh,
Dia hanya dapat mengintip sedikit, sesekali menghela nafas.
"Daun, aku takut kamu terjatuh saat aku didekatmu"
"Daun, aku senang melihatmu masih bergantung bersama ranting"
Desah angin kembali.
"Daun, kamu nampak cantik saat berayun bersama ranting"
Kemudian angin menunduk memerangi dirinya.
"Lihat, daun sudah bersama ranting. Ranting adalah tempat terbaik untuk daun. Jika aku mendekati daun aku takut dia terjatuh ditanah, terinjak dan akan berakhir diperapian"
Dengan langkah gontai sang angin beranjak meninggalkan daun, perlahan hingga tak terasa hembusannya.

DAUN
Hai, aku daun. Kamu tahu ? Menjadi daun cukup melelahkan.
Aku harus bergantung hingga kulitku menguning, tanpa adanya angin rasanya melelahkan.
Aku merindukan angin.
Dengannya aku rindang.
Tanpanya aku gersang.
Lelah selalu bergantung, bukan bermaksud menentang takdir.
Tapi takdirkupun akhirnya terjatuh ditanah.
Tak apa waktuku tak banyak.
Namun, bersama angin akan ku nikmati detik - detik rindangku.
Kali ini aku kehilangan dia, kini setiap hariku ditemani rintik hujan dan kilatan petir.
Aku takut.

Minggu, 23 Februari 2014

Setumpuk Kertas

Detik - detik semester terakhir malah jadi jenuh guys. Setumpuk kertas berwarna putih merajuk meminta digores tinta biru. Tapi, cerita sebenarnya bukan dari kertas yang itu. Kamu tahu ? Semakin tua kertas yang disimpan, semakin tampak juga makna tersiratnya. Mungkin, isi kertas itu yang berharga, atau bisa jadi kertas itu menyimpan memory. Ada seorang teman yang mengatakan"Nulis aja, urusan ada yang baca atau engga setidaknya itu jadi media ekspresi kita kan" Dulu saya sangat suka menulis, tapi sempat terhenti. Satu sisi saya teringat tentang seseorang yang dulu selalu melarang saya untuk mengumbar privacy di sosial media, di sisi lain saya merasa hidup saya tidak terlalu menyenangkan untuk dibagi.